Risa literasi dasar siswa adalah 78,30%, tergolong

 

 

Risa Yanuarti Sholihah 1

Muakibatul Hasanah 2

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

E-mail: [email protected]; [email protected]

Universitas Negeri Malang, Jalan Semarang No. 5 Malang 65145

 

 

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan mengetahui (1) kemampuan literasi dasar siswa kelas X, (2) prestasi belajar siswa kelas X, (3) hubungan kemampuan literasi dasar dan prestasi belajar siswa kelas X. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif jenis korelasional. Hasil penelitian ini adalah (1) kemampuan literasi dasar siswa adalah 78,30%, tergolong baik; (2) prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa adalah 81,7%, tergolong baik; dan (3) terdapat hubungan signifikan antara kemampuan literasi dasar dan prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa kelas X.

 

Kata Kunci: kemampuan literasi dasar, prestasi belajar, hubungan

 

ABSTRACT: This study aims to determine (1) basic literacy skills of X grade, (2) learning achievement of X grade, (3) relationship of basic literacy skills and student achievement of X grade. This research uses quantitative correlational approach. The results of this study are (1) the basic literacy skills of students is 78,30%, quite good; (2) Indonesian students’ learning achievement is 81,7%, is good; and (3) there is a significant correlation between basic literacy skills and learning achievement of Indonesian of X grade.

 

Keywords: basic literacy skills, learning achievement, correlation

 

Literasi dasar merupakan kemampuan membaca dan menulis yang saat ini sangat dibutuhkan siswa dalam pembelajaran di sekolah. Untuk memperoleh hasil belajar yang maksimal, siswa perlu menggunakan kemampuan literasinya secara maksimal. Hal tersebut bermanfaat dalam menunjang pembelajaran di sekolah.

Hasil pengukuran literasi siswa di Indonesia dapat dilihat dari beberapa penelitian. PISA (Programme for International Student Assessment) adalah studi internasional yang mengukur prestasi literasi membaca, matematika, dan sains siswa sekolah berusia 15 tahun. Penentuan sampel PISA berdasarkan tiga strata yaitu jenis sekolah (SMP/MTs/SMA/MA/SMK), status sekolah (Negeri/Swasta), dan performansi sekolah (Baik/Sedang/Kurang). Hasil penelitian PISA  tahun 2012,  Indonesia menempati urutan  terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia, kemudian pada tahun 2015 Indonesia menempati urutan ke-6 dari 72 negara. Selain itu, berdasarkan survei UNESCO  tahun 2012, minat baca masyarakat  Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, pada setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. Kedua hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa literasi siswa Indonesia berbeda jauh dibanding negara lain.

Pentingnya kebutuhan literasi siswa didukung oleh kebijakan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 yakni salah satu kegiatan wajibnya menggunakan 15 menit sebelum hari pembelajaran untuk membaca buku selain buku mata pelajaran (setiap hari). Hal tersebut digunakan sebagai langkah membentuk kebiasaan berliterasi siswa. Menurut Suyono (2009:204) “membaca-berpikir-menulis yang merupakan inti literasi sangat diperlukan siswa untuk menyelesaikan studi, melanjutkan studi, mempersiapkan diri memasuki dunia pekerjaan, dan belajar sepanjang hayat di tengah masyarakat”.

Kemampuan literasi yang memadai berhubungan dengan prestasi belajar siswa. Menurut Bastug (2014:941) terdapat hubungan langsung dan positif korelasi struktural antara sikap membaca, pemahaman bacaan dan prestasi akademik. Sikap membaca secara signifikan memprediksi pemahaman bacaan. Pada gilirannya, pemahaman bacaan secara signifikan memprediksi prestasi akademik.

Dua penelitian menunjukkan bahwa pentingnya literasi dalam pembelajaran siswa di sekolah. Penelitian tersebut yaitu: (1) penelitian yang dilakukan oleh Kusumo (2011) menjelaskan sekolah sebagai wadah penting dalam mengembangkan perilaku berliterasi siswa; (2) penelitian oleh Sholichah (2016)  menjelaskan pemetaan kemampuan literasi siswa SMA. Oleh karena itu, peneliti melakukan penelitian yang bertujuan mengetahui hubungan kemampuan literasi dasar dan prestasi belajar siswa.

 

METODE

            Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif jenis korelasional untuk mengukur skor kemampuan literasi dasar dan prestasi belajar siswa. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X dengan populasi sebanyak 344 siswa, sedangkan sampel penelitian ini sebanyak 120 siswa siswa yang diambil dari kelas IPA 1, IPA 2, IPS 1, IPS 2, dan Bahasa 2. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Simple Random Sampling.

Instrumen yang digunakan adalah tes dan angket. Tes digunakan untuk mengukur kemampuan literasi dasar siswa yang disusun berdasarkan kriteria dalam PISA (Programme for International Student Assessment) tahun 2015 yang terdiri dari lima kemampuan yang meliputi: kemampuan menerima informasi; kemampuan membentuk pemahaman yang luas; kemampuan mengembangkan interpretasi; kemampuan merefleksi dan mengevaluasi isi teks; dan kemampuan merefleksi dan mengevaluasi bentuk teks. Perumusan butir soal diperoleh dari indikator-indikator yang termuat dalam PISA. Instrumen berikutnya yaitu angket. Angket digunakan sebagai penguat skor prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa yang disusun berdasarkan kriteria dalam Taksnomi Bloom yang meliputi: ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik.

Instrumen yang akan diujicobakan harus divalidasi terlebih dahulu. Validasi instrumen berhubungan dengan kesesuaian dan ketepatan fungsi alat ukur yang digunakan. Validitas isi menunjukkan sejauh mana tes mengukur tingkat penguasaan terhadap isi suatu materi pembelajaran dan tujuan pembelajaran (Harsiati, 2011:96). Setelah pembuatan instrumen sesuai validitas isi yang memadai, instrumen dikonsultasikan kepada ahli yakni Ibu Dr. Muakibatul Hasanah, M.Pd. Selanjutnya instrumen siap diujicobakan di sekolah dan hasil uji coba instrumen dianalisis untuk mengetahui instrumen tersebut telah layak digunakan. Pengujian instrumen di lapangan dilaksanakan di SMA Negeri 2 Malang pada kelas yang bukan menjadi sampel penelitian, yakni kelas X IPA 4. Data hasil uji instrumen kemudian dilakukan uji tingkat kesukaran butir soal dan uji daya beda. Hasil pengujian kemudian didiskusikan kembali dengan ahli/dosen pembimbing sehingga diperoleh saran-saran perbaikan intrumen, dan instrumen siap diujikan.  Instrumen yang telah diujikan selanjutnya dianalisis menggunakan program SPSS 16.0 for Windows, meliputi dua uji prasyarat dan uji korelasional. Kedua uji prasyarat tersebut meliputi (1) uji normalitas dan (2) uji linieritas.

 

HASIL PENELITIAN

Kemampuan Literasi Dasar Siswa

            Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan literasi dasar siswa tergolong baik. Kemampuan literasi dasar tersebut meliputi kemampuan: (1) menerima informasi, (2) membentuk pemahaman yang luas, (3) mengembangkan interpretasi, (4) merefleksi dan mengevaluasi isi teks, dan (5) merefleksi dan mengevaluasi bentuk teks. Adapun nilai dari lima kemampuan tersebut terpadu menjadi satu. Data hasil penelitian dapat dilihat pada Tabel 1.

 

Tabel 1 Kemampuan Literasi Dasar Siswa

Kelas

Mean

Median

Modus

Nilai Terendah

Nilai Tertinggi

IPA 1

78,17

79,50

63

63

88

IPA 2

79,74

80

73

71

89

IPS 1

78,73

78

78

66

89

IPS 2

77,88

78

80

70

86

Bahasa 2

78,19

79

80

66

92

 

            Berdasarkan Tabel 1 diketahui bahwa kemampuan literasi dasar siswa kelas X menunjukkan bahwa (1) nilai rata-rata/mean tertinggi diperoleh oleh kelas IPA 2 dengan nilai 79,74 dan nilai rata-rata/mean terendah diperoleh kelas IPS 2 dengan nilai 77,88, (2) nilai tengah/median yang diperoleh oleh masing-masing kelas menajukkan hasil yang berbeda-beda, (3) nilai yang sering muncul/modus yang diperoleh oleh masing-masing kelas menunjukkan hasil yang berbeda-beda, (4) nilai terendah diperoleh oleh kelas IPA 1 dengan nilai 63, dan (5) nilai tertinggi diperoleh oleh kelas Bahasa 2 dengan nilai 92.

            Nilai rata-rata kemampuan literasi dasar yang dimiliki siswa berkisar antara 77-79. Tingkat penguasaan dengan nilai 75-84 termasuk dalam kategori baik. Dapat disimpulkan bahwa kemampuan literasi dasar siswa kelas X SMAN 2 Malang tergolong baik.

 

Prestasi Belajar Bahasa Indonesia Siswa

            Prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa diperoleh dari rata-rata nilai Bahasa Indonesia siswa selama satu semester pada semester gasal tahun pelajaran 2016/2017. Data hasil penelitian dapat dilihat pada Tabel 2.

 

 

Tabel 2 Prestasi Belajar Bahasa Indonesia Siswa

Kelas

Mean

Median

Modus

Nilai Terendah

Nilai Tertinggi

IPA 1

81,17

80

79

79

84,05

IPA 2

82,87

83

85

78

83

IPS 1

80,73

81

78

78

83

IPS 2

79,73

78,50

78

78

79

Bahasa 2

84,05

83

83

79

89

           

Berdasarkan Tabel 2 diketahui bahwa prestasi belajar bahasa Indonesia siswa kelas X menunjukkan bahwa (1) nilai rata-rata/mean tertinggi diperoleh oleh kelas Bahasa 2 dengan nilai 84,05 dan nilai rata-rata/mean terendah diperoleh kelas IPS 2 dengan nilai 79,73, (2) nilai tengah/median  yang diperoleh oleh masing-masing kelas menunjukkan hasil yang berbeda-beda, (3) nilai yang sering muncul/modus yang diperoleh oleh masing-masing kelas menunjukkan hasil yang berbeda-beda, (4) nilai terendah diperoleh oleh kelas IPA 2, IPS 1, IPS 2, dengan nilai 78 dan (5) nilai tertinggi diperoleh oleh kelas Bahasa 2 dengan nilai 89.

            Nilai rata-rata prestasi belajar Bahasa Indonesia yang dimiliki siswa berkisar antara 79-84. Tingkat penguasaan dengan nilai 75-84 termasuk dalam kategori baik. Dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa kelas X SMAN 2 Malang tergolong baik.

 

Uji Korelasi Kemampuan Literasi Dasar dan Prestasi Belajar

Uji Korelasi dilakukan untuk mengetahui hubungan variabel kemampuan literasi dasar dan prestasi belajar siswa. Adapun uji korelasional yakni nilai signifikansi rtabel. Data hasil uji korelasi dapat dilihat pada Tabel 3.

 

Tabel 3 Uji Korelasional Data

Correlations

 

 

Kemampuan_Literasi

Prestasi_Belajar

Kemampuan_Literasi

Pearson Correlation

1

.201*

Sig. (2-tailed)

 

.028

N

120

120

Prestasi_Belajar

Pearson Correlation

.201*

1

Sig. (2-tailed)

.028

 

N

120

120

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

 

 

Berdasarkan Tabel 4.12 diketahui bahwa nilai signifikansi sebesar 0,028 0, 151 rtabel. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hipotesis diterima karena terdapat hubungan signifikan antara variabel kemampuan literasi dasar dan variabel prestasi belajar.

 

PEMBAHASAN

Kemampuan Literasi Dasar Siswa

            Literasi dasar adalah kemampuan membaca-berpikir-menulis dalam memahami, menggunakan, dan memanfaatkan beragam informasi bahasa tulis untuk berbagai keperluan. Menurut Baer (2009) literasi adalah pengetahuan dan kemampuan yang dibutuhkan untuk mencari informasi, memahami, dan menggunakan informasi secara terus-menerus dalam teks dari buku, artikel dalam koran, atau majalah.

Rata-rata kemampuan literasi dasar siswa kelas X SMAN 2 Malang tergolong baik. Siswa rata-rata mendapat skor literasi dasar sebesar 78,30%. Skor yang diperoleh tersebut tergolong baik karena mencapai tingkat penguasaan antara 75%-84%. Hal tersebut terjadi karena siswa mampu menjawab soal-soal yang diberikan dalam tes dengan baik, ditambah dengan kebiasaan siswa melakukan kegiatan literasi setiap hari, yakni dengan membaca dan merangkum bacaan selama 15 menit sebelum memulai pelajaran. Adapun penjabaran hasil dari kelima kemampuan literasi dasar siswa adalah sebagai berikut.

            Pertama, kemampuan menerima informasi. Rata-rata kemampuan siswa tergolong baik. Siswa rata-rata mendapatkan skor dengan persentase 79,60%. Skor yang diperoleh tersebut tergolong baik karena mencapai tingkat penguasaan antara 75%-84%. Hal tersebut terjadi karena soal yang terdapat dalam kemampuan menerima informasi menggunakan alat bantu berupa grafik dan tabel serta tingkat ketelitian siswa yang baik. Ketelitian memungut makna-makna yang tersebar di sepanjang halaman buku kemudian mengumpulkan dan menghimpunnya amat diperlukan karena kalau tidak teliti akan banyak gagasan yang menguap dan bersembunyi kembali (Hernowo, 2002:66). Adanya ketelitian yang baik akan mengurangi resiko kesalahan yang minimal dalam menjawab soal.

Kedua, kemampuan membentuk pemahaman yang luas. Rata-rata kemampuan siswa tergolong cukup. Siswa rata-rata mendapatkan skor dengan persentase 73%. Skor yang diperoleh tersebut tergolong cukup karena mencapai tingkat penguasaan antara 60%-74%. Hal ini terjadi karena pemahaman yang cukup dalam menggunakan teks atau bacaan. Menurut Anderson dalam (Tarigan, 1986:8) makna akan berubah berdasarkan pengalaman yang dipakai untuk menginterpretasikan kata-kata atau kalimat yang dibaca. Pemahaman yang tinggi dalam menafsirkan suatu bacaan sesuai situasi dan konteks diperlukan agar makna yang ditangkap pembaca sesuai dengan makna yang disampaikan oleh penulis.

Ketiga, kemampuan mengembangkan interpretasi. Rata-rata kemampuan siswa tergolong baik. Siswa rata-rata mendapatkan skor dengan persentase 76,70%. Skor yang diperoleh tersebut tergolong baik karena mencapai tingkat penguasaan antara 75%-84%. Hal ini terjadi karena pemahaman yang baik dalam menafsirkan suatu kata sesuai konteks. Siswa yang memiliki pemahaman yang baik memiliki interpretasi yang luas karena seringnya siswa menemui dan terlibat dengan bacaan. Menurut Adams dalam (Bastug, 2014:941), ketika keterampilan membaca berkembang, keterampilan kognitif juga meningkat. Keterampilan membaca yang baik akan meningkatkan pengetahuan dan membuat siswa semakin mampu memecahkan soal-soal.

Keempat, merefleksi dan mengevaluasi isi teks. Rata-rata kemampuan siswa tergolong sangat baik. Siswa rata-rata mendapatkan skor dengan persentase 87%. Skor yang diperoleh tersebut tergolong sangat baik karena mencapai tingkat penguasaan antara 85%-100%. Hal ini terjadi karena kepekaan argumen siswa dalam menyoroti masalah, didukung dengan teks/bacaan yang kontekstual sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Kemampuan merefleksi bacaan tidap terlepas dari pemikiran kritis siswa. Berpikir kritis adalah budaya berpikir yang memungkinkan seseorang berpikir dengan divergen, mengembangkan kemampuan memecahkan dan keterampilan berpikir melalui pertanyaan terkait dengan: hubungan sebab akibat, perspektif atau sudut pandang, bukti-bukti atau kemungkinan, dan debat (Priyatni, 2010:27).

Kelima, merefleksi dan mengevaluasi bentuk teks. Rata-rata kemampuan siswa tergolong baik. Siswa rata-rata mendapatkan skor dengan persentase 75%. Skor yang diperoleh tersebut tergolong baik karena mencapai tingkat penguasaan antara 75%-84%. Hal ini terjadi karena siswa sudah diajarkan mengenali beragam teks serta membedakannya. Tidak hanya itu, siswa juga terlibat langsung dengan menulis beragam teks. ada banyak hal yang dapat diperoleh dari kegiatan siswa menuliskan suatu teks. Menulis akan memperkuat pemahaman dan mengikat ilmu yang dimiliki sehingga dapat melekat di pikiran” (Hernowo, 2002:176). Oleh karena itu keterampilan menulis bermanfaat terhadap kemampuan siswa dalam merefleksi dan mengevaluasi isi teks.

 

Prestasi Belajar Bahasa Indonesia Siswa

Prestasi belajar siswa adalah hasil belajar yang telah dijalani siswa dalam pembelajaran di sekolah. Menurut (Azwar, 1996:164), “pengertian prestasi atau keberhasilan belajar dapat dioperasionalkan dalam bentuk indikator-indikator berupa nilai rapor, indeks prestasi studi, angka kelulusan, predikat keberhasilan, dan semacamnya”. Prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa kelas X SMAN 2 Malang tergolong baik.

Rata-rata prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa kelas X SMAN 2 Malang tergolong baik. Siswa rata-rata mendapatkan skor dengan persentase 81,7%. Skor yang diperoleh tersebut tergolong baik karena mencapai tingkat penguasaan antara 75%-84%. Hal ini terjadi salah satunya karena kegiatan literasi telah dilakukan siswa yakni dengan membaca dan merangkum bacaan selama 15 menit sebelum memulai pelajaran. Faktor yang turut berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa adalah faktor dari dalam yang meliputi keadaan jasmani dan psikologis dan faktor dari luar yang meliputi keluarga dan sekolah.

 

Tiga Ranah Prestasi Belajar Siswa

Prestasi belajar siswa dapat dilihat melalui tiga ranah yang meliputi ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik. Skor rata-rata prestasi belajar siswa ranah kognitif yang meliputi kategori: penerapan, analisa, sintesa, dan evaluasi sebesar 74,70%. Skor rata-rata prestasi belajar siswa ranah afektif yang meliputi kategori: penerimaan, responsif, dan karakterisasi sebesar 79,90%. Skor rata-rata prestasi belajar siswa ranah psikomotorik yang meliputi kategori: kesiapan, reaksi yang disarankan, reaksi natural, reaksi kompleks, dan kreativitas sebesar 79,20%. Tingkat penguasaan dengan nilai 75%-84% termasuk dalam kategori baik. Dapat disimpulkan bahwa tiga ranah prestasi belajar siswa kelas X SMAN 2 Malang tergolong baik.

 

Hubungan Kemampuan Literasi Dasar dan Prestasi Belajar

            Terdapat hubungan positif signifikan antara kemampuan literasi dasar dan prestasi belajar siswa. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai signifikansi 0,028 0,151 rtabel.

Kemampuan literasi dasar yang memadai mendukung prestasi belajar siswa. Menurut Adams dalam (Bastug, 2014:941) ketika keterampilan membaca berkembang, keterampilan kognitif juga meningkat. Keterampilan kognitif yang tinggi berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa yang lazimnya dapat diketahui pada hasil tes. Hasil atau prestasi belajar yang didapat oleh siswa yang rajin membaca atau mereka yang memiliki kemampuan literasi dasar yang tinggi, akan berbeda dengan siswa yang kurang gemar membaca. Guthrie dan Atwell dalam (Scholastic FACE, 2013:6) menyatakan bahwa siswa yang membaca secara luas dan sering,  memiliki prestasi yang lebih tinggi daripada siswa yang membaca secara jarang dan sempit. Sejalan dengan hal tersebut, peningkatan frekuensi, jumlah, dan keragaman kegiatan membaca meningkatkan latar belakang pengetahuan dan prestasi membaca (Layak dan Roser 2010; Guthrie dkk. 2008) dalam (Scholastic FACE, 2013:6). Selain itu Bastug (2014) mengatakan bahwa terdapat hubungan langsung dan positif korelasi struktural antara sikap membaca, pemahaman bacaan dan prestasi akademik. Oleh karena itu, untuk mendapatkan prestasi belajar yang tinggi didukung oleh tingginya kemampuan membaca-berpikir-menulis atau yang biasa disebut dengan inti literasi dasar.

 

SIMPULAN DAN SARAN

            Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan yaitu, kemampuan literasi dasar siswa SMAN 2 Malang dinyatakan baik, begitu pula prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa yang memiliki kategori baik. Terdapat hubungan signifikan antara kemampuan literasi dasar dan prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa. Dengan demikian, kemampuan literasi dasar mendukung prestasi belajar siswa.

Berdasarkan simpulan di atas, maka saran yang ditujukan adalah sebagai berikut. Pertama, kepada guru Bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan literasi dasar siswa melalui tes. Guru dapat menjadikan tes literasi dasar yang dimiliki peneliti sebagai masukan dalam pembuatan tes. Kedua, kepada peneliti lain untuk menjadikan hasil penelitian ini sebagai masukan dalam melakukan penelitian lain terkait literasi dan prestasi belajar.

 

DAFTAR RUJUKAN

Azwar, S. 1996. Pengantar Psikologi Intelegensi. Yogyakarta: Pelajar Pustaka Offset.

Baer, J.K, M. dan Sabatini, J. 2009. Basic Reading Skills and the Literacy of America’s Least Literature Adults. Washington, DC: U.S. Departmen of Education.

Bastug, M. 2014. The Structural Relationship of Reading Attitude, Reading Comprehension and Academic Achievement. International J. Soc. Sci.& Education (4):941.

Harsiati, T. 2011. Penilaian Pembelajaran (Aplikasi Pada Pembelajaran Membaca dan Menulis). Malang: Universitas Negeri Malang.

Hernowo. 2002. Mengikat Makna Kiat-kiat Ampuh untuk Melejitkan Kemampuan Plus Membaca dan Menulis Buku. Bandung: Kaifa.

Kusumo, G.B. 2013. Pengembangan Literasi Akademik di Sekolah. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang.

Priyatni, E. T. 2010. Membaca Sastra dengan Ancangan Literasi Kritis. Jakarta: Bumi Aksara.

Suyono. 2009. Pembelajaran Efektif dan Produktif Berbasis Literasi: Analisis Konteks, Prinssip, dan Wujud Alternatif Strategi Implementasinya di Sekolah. Jurnal Bahasa dan Seni, 37(2):203-217.

Scholastic FACE. 2013. The Life-Enhancing Benefits of Reading in Out-School Programs, (Online), (http://webcache.googleusercontent.com/search?q-cache:R9rOk0WYg8cJafterschoolalliance.org/documents/Afterschool-Literacy-Brief.pdf+cd=4&gl=id), diakses 19 Juli 2017.

Sholichah, R. 2016. Pemetaan Kemampuan Literasi Siswa SMA se-Kabupaten Bangil. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang..

Tarigan, H. G. 1984. Membaca Ekspresif. Bandung: Angkasa.