BAB responsibility, good corporate governance, insider ownership,

BAB I

PENDAHULUAN

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 

A.      Latar
Belakang Masalah

Perkembangan
dunia usaha di Indonesia yang berkembang pesat banyak menimbulkan pengaruh
besar bagi para pelaku bisnis, salah satunya ialah pesaingan pasar yang semakin
ketat. Sehingga untuk mendapatkan peluang usaha yang menjamin masa depan
usahanya maka perusahaan haruslah menjaga dan meningkatkan eksistensinya. Salah
satu caranya ialah dengan meningkatkan nilai perusahaan.Nilai perusahaan dapat
memberi kemakmuran pemegang saham secara maksimum apabila harga saham
meningkat.Semakin tinggi harga saham suatu perusahaan, semakin tinggi pula
nilai perusahaan tersebut.

Perusahaan
diharapkan selalu mengalami peningkatan nilai perusahaan dari tahun ke
tahun.Kenyataannya perusahaan yang berada di Indonesia sebagian besar memiliki
nilai perusahaan yang kecil dan mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun.
Fluktuasi nilai perusahaan yang terkadang naik atau turun terlalu jauh dapat
menimbulkan masalah, seperti perusahaan akan kehilangan daya tariknya di pasar
saham. Semakin banyak permintaan terhadap saham perusahaan, maka semakin tinggi
nilai perusahaan (Hamdani, 2016:  127).

1

Nilai perusahaan dipengaruhi oleh banyak faktor
diantaranya board diversity, corporate social responsibility, good corporate
governance, insider ownership, kebijakan hutang, kebijakan deviden,
keputusan investasi, keputusan pendanaan, profitabilitas, skala perusahaan,
umur perusahaan. Semua faktor-faktor tersebut, dapat dirangkum menjadi satu
kesatuan dimana semuanya dapat diukur dalam penerapan Good Corporate
Governance(GCG) melalui mekanismenya seperti Dewan Komisaris Independen,
Dewan Direksi dan Komite Audit karena mekanisme GCG tersebut memegang kekuasaan
tertinggi dalam menentukan kebijakan atau keputusan yang akan diambil oleh
perusahaan. Penerapan GCG memiliki peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan
para pemilik dan memaksimalkan kekayaan pemegang saham melalui peningktatan
nilai perusahaan (Hamdani, 2016:  129). Secara
teoritis, penerapan Good Corporate Governance dapat meningkatkan nilai
perusahaan yang ditandai dengan peningkatan kinerja keuangan dan rendahnya
risiko pengembalian keputusan untuk kepentingan diri sendiri (Hery, 2017:  22).

Forum
for Corporate Governance in Indonesia
menyatakan bahwa corporate governance yang baik dapat memberikan manfaat,
yakni: (1) Meningkatkan kinerja perusahaan melalui terciptanya proses pengembalian
keputusan yang baik; (2) Mempermudah diperolehnya dana pembiayaan yang lebih
murah dan tidak sulit karena faktor kepercayaan sehingga dapat meningkatkan
nilai bagi perusahaan; (3) Mengembalikan kepercayaan investor untuk menanamkan
modalnya; (4) Pemegang saham akan merasa puas dengan kinerja perusahaan melalui
peningkatan nilai pemegang saham dan dividen (Hery, 2017:  29).

Tujuan
dan manfaat dari penerapan Corporate Governance, yaitu: (1) Meminimalisasikan
terjadinya manipulasi oleh manajemen akibat konflik kepentingan dan
meningkatkan profesionalisme dalam pengelolaan perusahaan; (2) Meningkatkan
kepercayaan para investor dan calon investor, sehingga diharapkan lebih mudah
memperoleh akses modal dengan persyaratan yang lebih mudah dan lebih murah; (3)
Meningkatkan kinerja perusahaan, khususnya dalam jangka panjang (I Cenik dan
Hendro, 2016:  73).

Good
Corporate Governance pada dasarnya
merupakan suatu sistem (input, proses, output) dan seperangkat peraturan yang
mengatur hubungan antara berbagai pihak yang berkepentingan (stakeholder)
terutama dalam arti sempit hubungan antara pemegang saham, dewan komisaris dan dewan
direksi demi tercapainya tujuan perusahaan. Adanya praktik corporate governance
yang baik dalam suatu perusahaan diharapkan dapat mengurangi risiko yang
merugikan bagi perusahaan itu sendiri (Hery, 2017:  29).

Mekanisme
corporate governance dibagi menjadi dua kelompok, pertama berupa internal
mechanism (mekanisme internal), seperti komposisi dewan direksi dan
komisaris, kepemilikan manajerial, dan komposisi eksekutif. Mekanisme yang
kedua, external mechanism (mekanisme eksternal), seperti pengendalian
oleh pasar dan debt financing. Mekanisme yang digunakan dalam penelitian
ini adalah komposisi dewan komisaris (proporsi komisaris independen), dewan
direksi dan komite audit.

Dewan
komisaris independen adalah anggota komisaris yang tidak terafiliasi dengan manajer,
anggota dewan komisaris lainnya, dan pemegang saham pengendali, serta bebas
dari hubungan bisnis dan hubungan lainnya yang dapat mempengaruhi kemampuannya
untuk bertindak independen atau semata-mata demi kepentingan perusahaan. Dewan
komisaris memegang peranan penting dalam pelaksanaan GCG.Secara teori dan
praktik, tugas utama dari dewan komisaris adalah melakukan fungsi pengawasan
terhadap manajemen untuk memastikan bahwa mereka melakukan segala aktivitas
dengan kemampuan terbaiknya bagi kepentingan perseroan, serta meninggalkan
keputusan yang tidak menguntungkan. Hal ini sejalan dengan esensi corporate
governance, yaitu meningkatkan nilai perusahaan melalui supervise atau
monitoring kinerja manajemen dan menjamin akuntabilitas manajemen terhadap shareholder
dan stakeholders lain. Besarnya jumlah dewan komisaris yang beragam akan
memberikan, pengetahuan dan keterampilan serta meningkatkan akses keberbagai
sumber daya terhadap lingkungan eksternal dan berdampak positif pada kinerja
perusahaan. Komisaris independen dalam perusahaan menyebabkan manajemen
perusahaan tidak dapat melakukan kecurangan sehingga kinerja perusahaan bagus
dan sehat (Hamdani, 2016:  134).

Dewan komisaris independen
berfungsi sebagai kekuatan penyeimbang dalam pengambilan keputusan oleh dewan
komisaris (Hery, 2017:  30). Peran dewan
komisaris independen sangat penting dan cukup menentukan bagi keberhasilan
implementasi good corporate governance. Fungsi utama dewan komisaris menurut Indonesian
Code for Corporate Governance adalah memberi supervise kepada dewan direksi
dalam menjalankan tugasnya. Melalui peran
dewan komisaris dalam menjalankan fungsi pengawasannya terhadap tindakan
manajemen dalam mengelola
perusahaan, proporsi dewan komisaris independen dapat memberikan kontribusi
yang efektif terhadap kualitas dari hasil penyusunan laporan keuangan yang
dilakukan oleh pihak manajemen (Hery, 2017: 
31). Dewan komisaris independen tidak memiliki otoritas dalam perusahaan, maka dewan
direksi bertanggung jawab untuk menyampaikan informasi terkait dengan
perusahaan kepada dewan komisaris independen.

Dewan Direksi bertugas untuk menjalankan kegiatan operasi perusahaan
berdasarkan arahan dan garis besar kebijakan yang telah ditetapkan oleh RUPS,
Dewan Komisaris, serta Anggaran Dasar Perseroan yang berlaku dalam koridor
hukum (Sukrisno dan Cenik, 2009: 
109).Dewan direksi bertanggung jawab terhadap pengelolaan perusahaan
agar dapat menghasilkan keuntungan (profitability) dan memastikan
kesinambungan usaha perusahaan.

Salah
satu komite tambahan yang kini banyak muncul untuk membantu fungsi Dewan
Komisaris adalah Komite Audit. Munculnya Komite Audit ini berangkali disebabkan
oleh kecenderungan makin meningkatnya berbagai skandal penyelewangan dan
kelalaian yang dilakukan oleh para direktur dan komisaris besar baik yang
terjadi di Amerika Serikat maupun Indonesia yang menandakan kurang memadainya
fungsi pengawasan. Komite Audit bertugas membantu Dewan Komisaris untuk
memastikan bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum (Hamdani, 2016: 
92).

Faktor
lain yang mampu menunjang pencapaian nilai perusahaan dan juga sekaligus
sebagai salah satu faktor yang menunjukan efektivitas dan efisiensi dalam
pencapaian nilai perusahaan tersebut adalah Profitabilitas.Profitabilitas
merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dengan menggunakan sumber-sumber
yang dimiliki perusahaan, seperti aktiva, modal, atau penjualan perusahaan (I Made,
2011:  22).

Apabila
profitabilitas perusahaan baik maka para stakeholders yang terdiri dari
kreditor, pemasok, dan juga investor akan melihat sejauh mana perusahan dapat
menghasilkan laba dari penjualan dan investasi. Semakin baik kinerja perusahaan
akan meningkatkan nilai perusahaan (Hery, 2017: 
3). Profitabilitas juga mencerminkan kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham. Semakin tinggi rasio
profitabilitas mencerminkan tingkat pengembalian investasi yang tinggi juga
bagi pemegang saham, sehingga akan menarik perhatian investor untuk menanamkan
modalnya.

Penilaian
profitabilitas disini dapat dilakukan dengan analisis rasio keuangan.Salah satu
rasio keuangan yang dapat digunakan dalam mengukur profitabilitas perusahaan
adalah ROA (Return on Assets). Return on Assets merupakan indikator
rasio profitabilitas untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan
laba dengan menggunakan total aktiva yang ada dan setelah biaya-biaya modal
(biaya yang digunakan mendanai aktiva) dikeluarkan dari analisis. Rasio ini
digunakan untuk melihat kemampuan perusahaan dalam mengelola setiap nilai asset
yang mereka miliki untuk menghasilkan laba bersih setelah pajak.Semakin tinggi
nilai ROA sebuah perusahaan maka semakin baik pula kemampuan perusahaan dalam
mengelola asetnya.

Dari
beberapa penelitian menunjukan adanya ketidakkonsistenan hasil penelitian (Research
Gap).Beberapa penelitian sebelumnya, yang dilakukan oleh Tutut dan Nur
(2015), Freddy (2009), dan Hary (2014) menyatakan bahwa dewan komisaris
independen berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Sedangkan hasil penelitian
Gigih (2016), Gusti (2016), dan Zantisyah (2014) menyatakan bahwa dewan
komisaris independen tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

Pengaruh
komite audit terhadap nilai perusahaan diteliti oleh Freddy (2009) menyatakan
bahwa komite audit berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Sedangkan hasil
penelitian Gigih (2016) dan Hary (2014) menyatakan bahwa komite audit tidak
berpengaruh terhadap nilai perusahaan. dan pengaruh dewan komisaris independen,
dewan direksi, dan komite audit terhadap nilai perusahaan yang dimoderasi
profitabilitas diungkapkan dalam hasil penelitian Wulan dan Gayatri (2016)
menyatakan bahwa profitabilitas yang menggunakan rasio Return on Asset
(ROA) dapat memoderasi pengaruh good corporate governance terhadap nilai
perusahaan. sedangkan hasil penelitian Tutut dan Nur (2015) menyatakan kinerja
keuangan yang menggunakan rasio Return on Asset (ROA) tidak memiliki
pengaruh dalam memoderasi hubungan dewan komisaris terhadap nilai perusahaan.

Berdasarkan
data yang terlampir terlihat jelas bahwa dewan komisaris independen, dewan
direksi dan komite audit ada yang berbeda-beda setiap tahunnya ada juga yang
tetap dari tahun ketahun.Dari data tersebut menunjukan bahwa peningkatan  dewan komisaris, dewan direksi dan komite
auditada yang diikuti dengan peningkatan nilai perusahaan tetapi ada juga yang
mengalami penurunan nilai perusahaan walaupun dewan komisaris independen, dewan
direksi dan komite audit meningkat. Seperti pada perusahaan Bara jaya
International Tbk pada tahun2016 mengalami peningkatan dewan komisaris
independen tetapi tidak diikuti dengan peningkatan nilai perusahaan, sedangkan
pada tahun 2013 dengan proporsi dewan komisaris independen yang lebih sedikit
dibanding tahun 2016 mengalami peningkatan nilai perusahaan.

Dian
Swastatika Tbk pada tahun 2013 mengalami peningkatan dewan komisaris independen
tetapi tidak diikuti dengan peningkatan nilai perusahaan, sedangkan pada tahun
2014 dengan proporsi dewan komisaris independen yang sama mengalami peningkatan
nilai perusahaan. Bayan Resources Tbk pada tahun 2015 mengalami peningkatan
dewan direksi tetapi tidak diikuti dengan peningkatan nilai perusahaan,
sedangkan pada tahun 2016 mengalami penurunan dewan direksi tetapi mengalami
peningkatan nilai perusahaan. dan pada perusahaan Tambang Batu Bara Bukit Asam
Tbk pada tahun 2015 mengalami peningkatan komite audit tetapi tidak diikuti
dengan peningkatan nilai perusahaan, sedangkan pada tahun 2016 mengalami
penurunan komite audit tetapi mengalami peningkatan nilai perusahaan. Hal ini
bersimpangan dengan teori yang menyatakan bahwa semakin meningkat dewan
komisaris independen, dewan direksi dan komite audit akan diikuti dengan
peningkatan nilai perusahaan.

Berdasarkan latar
belakang yang telah diuraikan, dan beberapa penelitian sebelumnya ternyata
masih menggambarkan hasil yang belum konsisten, sehingga penelitian lebih
lanjut terhadap masalah ini masih perlu dilakukan. Untuk itulah penulis
tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Dewan Komisaris
Independen, Dewan Direksi dan Komite Audit terhadap Nilai Perusahaan dengan Profitabilitas
sebagai Variabel Moderating (studi empiris pada perusahaan pertambangan sub
sektor batu bara yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2012-2016).

 

B.      
Rumusan Masalah

Berdasarkan
uraian latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah bagaimanakah pengaruh dewan komisaris independen, dewan direksi dan
komite audit terhadap nilai perusahaan dengan profitabilitas sebagai variabel
moderasi?

 

 

 

C.      Tujuan
Penelitian

Berdasarkan
rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh
dewan komisaris, dewan direksi dan komite audit terhadap nilai perusahaan
dengan profitabilitas sebagai variabel moderasi.

 

D.      Manfaat
Penelitian

Penelitian
ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak diantaranya:

1.      Bagi
Penulis

Penelitian
ini bermanfaat untuk memperdalam pengetahuan penulis tentang pengaruh dewan
komisaris independen, dewan direksi dan komite audit terhadap nilai perusahaan
dengan profitabilitassebagai vaiabel moderating dan juga untuk pengembangan
penelitian selanjutnya.

2.      Bagi
Perusahaan

Hasil
penelitian ini diharapkan dapat memberikan input dan masukan bagi perusahaan mengenai
pengaruh dewan komisaris independen, dewan direksi dan komite audit terhadap
nilai perusahaan dengan profitabilitassebagai vaiabel moderating sebagai
evaluasi kinerja keuangan perusahaan.

3.      Bagi
Almamater

Hasil
penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan ilmu
pengetahuan mengenai pengaruh dewan komisaris independen, dewan direksi dan
komite audit terhadap nilai perusahaan dengan profitabilitas sebagai vaiabel
moderasi.