BAB berbeda-beda tergantung dari pekerjaan apa yang

BAB
I

PENDAHULUAN

A. Isu / Problem Keilmuan

Keputusan untuk kuliah
sambil bekerja merupakan keputusan yang berisiko dan tidak mudah untuk dilakukan. Namun risiko tersebut berbeda-beda tergantung dari pekerjaan
apa yang dipilih. Kuliah merupakan waktu yang biasanya digunakan
mahasiswa untuk belajar dan
mempersiapkan diri sebelum memasuki dunia kerja. Namun, tidak sedikit
orang-orang yang kuliah sambil bekerja. Kuliah sambil bekerja tidak salah
selama kita masih bisa tetap fokus kuliah, daripada fokus utuk bekerja. Jika
kita fokus mencari uang, istilah yang lebih tepat digunakan adalah kerja sambil
kuliah. Kuliah sambil bekerja berarti mengambil dua kesibukan sekaligus. Kuliah
sambil bekerja akan berdampak bagi mahasiswa, dampak yang didapatkan mahasiswa
bisa berupa dampak postif maupun dampak negatif.

Banyak alasan yang digunakan
mahasiswa dalam memilih kuliah sambil bekerja. Alasan yang paling sering
ditemui adalah permasalahan ekonomi. Biasanya biaya yang digunakan untuk kuliah
dan memenuhi kebutuhan sehari-hari tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya. Permasalahan ekonomi ini banyak ditemui bagi mahasiswa yang kuliah
merantau atau di luar daerah asalnya, misalnya kuliah di luar kota
maupun di luar negeri. Selain permasalah ekonomi, banyak pula yang
memilih untuk kuliah sambil
bekerja karena ingin mengembangkan bakatnya, sekaligus mempersiapkan diri agar
lebih matang saat memasuki dunia kerja.

Pekerjaan-pekerjaan yang
biasanya dilakukan mahasiswa sangat beragam. Jika tujuan utamanya adalah untuk
memenuhi kebutuhan ekonominya dan belum mempunyai keahlian tertentu, biasanya
mereka akan melakukan pekerjaan-pekerjaan sederhana yang tidak memerlukan
keahlian khusus. Misalnya, menjaga warnet (warung internet), jasa pengetikan,
karyawan rumah makan, pramusaji, maupun sebagai sales. Namun berbeda dengan
mahasiswa yang bekerja dengan alasan untuk menyalurkan bakatnya. Mereka yang
suka fotografi bisa menjadi juru potret, mereka yang memiliki keahlian di
bidang bahasa bisa menjadi guru les privat, mahasiswa yang suka menulis bisa
menjadi wartawan atau menulis artikel di koran atau majalah. Pekerjaan lain
yang biasa dilakoni juga seperti mengajar di sekolah
atau melatih di klub olahraga,
membuat design, sebagai penerjemah,
maupun berbisnis online sesuai bakat
yang dimiliki.

Di zaman modern dan global ini, dunia kerja tidak hanya
menuntut seseorang sebagai insan yang pintar, namun juga profesional dan
memiliki daya keatifitas yang tinggi. Sebagai mahasiswa yang nantinya akan
memasuki dunia kerja, merupakan nilai tambah bagi mereka jika saat menjadi
mahasiswa sudah pernah terjun dan bersentuhan langsung dengan dunia kerja. Mahasiswa
yang kuliah sambil bekerja akan memiliki pengalaman lebih banyak dibandingkan
dengan mahasiswa lain yang sama sekali belum pernah bersentuhan dengan dunia
kerja. Selain itu, dengan kuliah sambil bekerja dapat mematangkan pola pikir
individu saat memasuki dunia kerja, mengembangkan jiwa kemandirian, dan
menghubungkan antara teori yang didapat di kampus dengan kenyataan di dunia
kerja.

Karena memiliki penghasilan
tambahan, mahasiswa dapat membiayai kuliahnya sendiri bahkan kebutuhan
sehari-harinya. Hal tersebut berarti mahasiswa akan merasa bangga dengan
dirinya sendiri karena tidak lagi merepotkan orang
tuanya. Meskipun di
lain pihak, orang
tua mahasiswa tersebut
tergolong mampu, namun biasanya saat seseorang sudah bisa membiayai diri
sendiri dan menjadi mandiri, maka akan timbul kebanggaan dalam dirinya. Hasil
penelitian yang dilakukan oleh Mueller (dalam Kosine dan Lewis, 2008)
mengemukakan bahwa individu yang menemukan kepuasan pada pekerjaannya
menunjukkan tingkat komitmen, kompetensi, produktivitas, dan penyesuaian diri
yang tinggi.

Kuliah sambil bekerja,
berarti membagi waktu kuliah dengan bekerja. Dengan terbaginya waktu kuliah
mahasiswa, maka waktu untuk mengerjakan tugas kuliah, berkumpul bersama
teman-teman, maupun keluarga akan berkurang juga. Tidak jarang pula ditemui,
jika waktu kuliah berbenturan dengan waktu bekerja, hal ini berarti kita harus
memilih antara kuliah atau bekerja yang harus diprioritaskan.

Bekerja sambil kuliah bukan
hal yang mudah dilakukaan, namun bukan berarti tidak bias
dilakukan. Hal yang perlu
diperhatikan adalah cara untuk mensiasati dua kegiatan tersebut agar keduanya
dapat berjalan beriringan dan tidak mengalami kendala dalam pelaksanaanya. Hal
yang paling penting adalah seorang mahasiswa harus bisa mengatur waktu dengan
baik, sehingga kuliah dan pekerjaan akan berjalan dengan baik, tanpa ada salah
satu yang perlu dikorbankan akibat tidak bisa membagi waktu dengan baik.
Membagi waktu dengan baik bisa disiasati dengan cara memilih pekerjaan freelance atau bekerja dengan sistem
kerja selingan (pagi atau malam), sehingga mahasiswa bisa mengatur waktu antara
kuliah dan bekerja.

Ketika mereka memutuskan
kuliah sambil bekerja, berarti mereka harus siap pada dampak-dampak yang kurang
menyenangkan dari apa yang mereka bayangkan. Memfokuskan diri terhadap dua
aktifitas sekaligus akan menguras tenaga dan pikiran mereka. Mereka akan
berfikir lebih keras agar keduanya dapat berjalan lancar secara bersamaan. Oleh
karena itu, tidak jarang orang yang kuliah sambil bekerja mengalami stres. Stres
karena memikirkan tugas-tugas kuliah dan prestasi yang harus dikejar, di
lain pihak juga harus
memikirkan beban pekerjaannya.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar
belakang masalah di atas, maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut:
Bagaimana olahraga dapat mengatasi stres?

C. Tujuan Makalah

Mengacu pada rumusan
masalah yang dikemukakan di atas, maka tujuan makalah ini yaitu: Mengetahui
peran olahraga dalam mengatasi stres.

D. Kegunaan Makalah

Makalah yang
berkenaan dengan tubuh sebagai objek dalam olahraga ini disusun dengan harapan
dapat memberi manfaat bagi penulis dan pembaca, baik secara teoretis maupun
secara praktis sebagai :

1.    wahana
penambah pengetahuan dan konsep keilmuan ;

2.    bahan
masukan dan informasi ilmiah ; dan

3.    kajian
keilmuan keolahragaan yang diharapkan dapat terus berkembang dari generasi ke
generasi mendatang.

E. Prosedur Makalah

Makalah
ini disusun dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan
adalah metode deskriptif. Melalui metode ini penulis akan menguraikan
permasalahan yang dibahas secara jelas dan komprehensif. Data teoretis dalam
makalah ini dikumpulkan dengan menggunakan teknik studi pustaka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB
II

KAJIAN

A. Aksiologi Olahraga

Aksiologi
(aspek ketiga) berkaitan dengan nilai-nilai, untuk apa manfaat suatu kajian.
Secara aksiologi olahraga mengandung nilai-nilai ideologi, politik, ekonomi,
sosial, budaya dan strategis dalam pengikat ketahanan nasional (KDI Keolahragaan,
2000: 36). Sisi luar aksiologis ini menempati porsi yang paling banyak,
dibandingkan sisi dalamnya yang memang lebih sarat filosofinya. Kecenderungan-kecenderungan
sisi aksiologi keolahragaan ini secara akademis menempati sisi yang tak bisa
diabaikan, bahkan cenderung paling banyak diminati untuk dieksplorasi. Ini
termasuk dari sisi estetisnya, di mana Randolph Feezell mengulasnya secara
fenomenologis, selain dimensi naratifnya (Feezell, 1989: 204-220). Kemungkinan
nilai etisnya, Dietmar Mieth (1989: 79-92) membahasnya secara ekstensif dan
komprehensif. Thomas Ryan (1989: 110-118) membahas kaitan olahraga dengan arah
spiritualitasnya. Nancy Shinabargar (1989: 44-53) secara sosiologis membahas
dimensi feminis dalam olahraga. Yang tersebut di atas adalah beberapa contoh
cakupan dimensi ilmu keolahragaan dalam filsafat ilmu, di mana ekstensifikasi
dan intensifikasi masih luas menantang.

Kajian
aksiologis dapat menunjukkan bahwa ilmu keolahragaan dan aplikasinya dalam
bentuk aktivitas keolahragaan ternyata memiliki nilai-nilai positif berkenaan
dengan realitas kehidupan individu maupun masyarakat luas secara universal.
Disamping nilai-nilai pembentukan dan pendidikan sebagai nilai-nilai utama,
nilai survival bagi kehidupan umat manusia merupakan nilai yang lebih
esensial. Nilai-nilai lain sebagai nilai ikutannya adalah berpotensi untuk
memberikan sumbangan dalam membentuk kehidupan masyarakat dan umat manusia
dalam kebersamaan tanpa mamandang perbedaan suku, ras, bangsa, agama, dan
budaya. Dalam skala yang lebih bersifat sektoral, memiliki nilai-nilai dapat
menyumbang terbentuknya dinamika kehidupan sosial, budaya, ekonomi, ideologi,
politik, hukum, keamanan, dan ketahanan bangsa.

B. Perubahan
Sosial

Manusia adalah makhluk bermain (homo
ludens). Integritas, keutuhan dan pengenalan diri seorang manusia akan
menjadi lebih transparan ketika ia tengah bermain. Dalam kaitannya dengan homo
ludens, ada pembeda yang sangat substantif antara ludens yang terdapat pada
manusia dan ludens yang terdapat pada hewan. Letak pembeda itu adalah kesadaran
dan integritasnya. Pada hewan ludesns-nya dikendalikan oleh naluri, insting
yang bersifat refleks dan bukan refleksif. Pada manusia, ludens-nya dikendalikan
oleh akal, otonomi, integritas dan kesadaran (consciousness).

Kehidupan
pada hakekatnya akan terus selalu berkembang. Dalam konteks sosial, tidak ada
masyarakat yang bersifat statis, namun cenderung berubah. Yang konstan adalah
perubahan itu sendiri. Perubahan dapat bersifat cepat atau lambat, berkembang
ke arah yang lebih baik (Progress) atau mundur ke arah sebelumnya (Regress),
berwujud dan dapat disaksikan (Manifest) atau hanya sekedar tersamar (Latent).
Masalahnya adalah, bahwa setiap perubahan yang terjadi dalam masyarakat
akan selalu memunculkan risiko kehidupan sosial atau ketidakpastian sosial.
Wujud dari ketidakpastian sosial tersebut bermacam-macam. Dalam konteks
kekinian, tatanan sosial yang baru (modern) lebih menekankan pada rasionalisasi
yang bersifat progresif. Di sisi lain, masyarakat yang mengalami transformasi,
solidaritas bukan lagi menjadi prioritas, melainkan lebih individualis atau
berorientasi pada pertimbangan untung rugi.

Gaya
hidup instan menjadi bagian kehidupan masyarakat kita. Akibat tidak langsung
yang menonjol adalah suburnya perilaku generasi muda yang kurang sabar, kurang
toleransi, menyenangi sesuatu yang praktis dan cepat. Sadar maupun tidak. Suka
atau tidak suka, itulah realitas sosial yang sedang kita hadapi. Kebudayaan
yang sedang kita alami saat ini merupakan proses transformasi sosial yang
kompleks dan cukup sulit untuk diprediksi. Pertanyaannya adalah, benarkah olahraga
dapat berpengaruh atas perkembangan sosial? Sejauh mana olahraga itu berperan?
Di manakah posisi olahraga akan kita tempatkan? Apakah olahraga masih dapat
diandalkan untuk menjadi solusi atas perubahan ini? ataukah justru olahraga
semakin menjadi bagian dari perubahan yang tengah terjadi? Semoga makalah ini
sedikit banyak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

C. Olahraga

Kesadaran bahwa
olahraga merupakan ilmu secara internasional mulai muncul pertengahan abad 20,
dan di Indonesia secara resmi dibakukan melalui deklarasi ilmu olahraga tahun
1998. Beberapa akademisi dan masyarakat awam memang masih pesimis terhadap
eksistensi ilmu olahraga, khususnya di Indonesia, terutama dengan melihat
kajian dan wacana akademis yang masih sangat terbatas dan kurang integral.
Namun sebagai suatu ilmu baru yang diakui secara luas, ilmu olahraga berkembang
seiring kompleksitas permasalahan yang ada dengan ketertarikan-ketertarikan
ilmiah yang mulai bergairah menunjukkan eksistensi ilmu baru ini ke arah
kemapanan. Olahraga, sebagaimana yang dikatakan Richard Scaht (1998: 124),
seperti halnya sex, terlalu penting untuk dikacaukan dengan tema lain. Ini
tidak hanya tentang latihan demi kesehatan. Tidak hanya permainan untuk
hiburan, atau menghabiskan waktu luang, atau untuk kombinasi dari maksud sosial
dan rekreasional.

Olahraga adalah
aktivitas yang memiliki akar eksistensi ontologis sangat alami, yang dapat diamati
sejak bayi dalam kandungan sampai dengan bentuk-bentuk gerakan terlatih. Olahraga
juga adalah permainan, senada dengan eksistensi manusiawi sebagai makhluk
bermain (homo ludens-nya Huizinga). Olahraga adalah tontonan, yang
memiliki akar sejarah yang panjang, sejak jaman Yunani Kuno dengan arete,
agon, pentathlon sampai dengan Olympic Games di masa modern, di mana
dalam sejarahnya, perang dan damai selalu mengawal peristiwa keolahragaan itu.
Olahraga adalah fenomena multidimensi, seperti halnya manusia itu sendiri. Mitos
dan agama Yunani awal menampilkan suatu pandangan dunia yang membantu
perkembangan kesalinghubungan intrinsik antara makna olahraga dan budaya dasar.
Keduanya juga merefleksikan kondisi terbatas dari eksistensi keduniaan, dan
bukan sebagai kerajaan transenden dari pembebasan. Nuansa keduniawian tampak
pula pada ekspresi naratif tentang kehidupan, rentang luas pengalaman
manusiawi, situasionalnya dan suka dukanya. Manifestasi kesakralan terwujud
dalam prestasi dan kekuasaan duniawi, kecantikan visual dan campuran dari daya
persaingan mempengaruhi situasi kemanusiaan (Hatab, 1998: 98). Perspektif
naturalistik Nietzsche ini menjelaskan mengapa banyak orang menyukai permainan
dan menyaksikan pertandingan olahraga, dan kenapa hal-hal tersebut dapat
dianggap memiliki nilai dan manfaat yang besar. Pertunjukan atletik adalah
penampilan dan proses produksi makna kultural penting. Ini dapat dilihat dari
efek kesehatan dan pengembangan keahlian fisik. Selain itu, pertunjukan
olahraga juga dapat dipahami sebagai tontonan publik yang mendramatisir
keterbatasan dunia yang hidup, prestasi teatrikal dari keadaan umat manusia,
pengejaran, perjuangan-perjuangan sukses dan gagal.

Dari sudut pandang
pengembangan sumber daya manusia, sudah jelas bahwa olahraga dapat menanamkan
kebajikan-kebajikan tertentu dalam keikutsertaan disiplin, kerja tim,
keberanian dan intelegensi praktis (Hatab, 1998: 103). “Aktivitas”, sebagai
kata yang mewakili definisi olahraga, menunjukkan suatu gerak, dalam hal ini
gerak manusia, manusia yang menggerakkan dirinya secara sadar dan bertujuan.
Oleh karena itu, menurut KDI keolahragaan, obyek material ilmu keolahragaan
adalah gerak insani dan obyek formalnya adalah gerak manusia dalam rangka
pembentukan dan pendidikan. Dalam hal ini, raga / tubuh adalah sasaran yang
terpenting dan paling mendasar.

D.
Stres

            Menurut
Soegijanto Sd. yang dikutip oleh Suryanto (2002: 45) stres adalah

interaksi antara organisme atau individu
dengan lingkungannya. Pendapat lain mengatakan bahwa stres adalah suatu tekanan
yang tidak dapat diatasi oleh seseorang, sehingga menimbulkan masalah kesehatan
dan perilaku. Tekanan bisa berasal dari diri sendiri maupun lingkungan atau
orang lain. Tekanan dari diri sendiri (internal), misalnya: merasa gagal, tubuh
yang tidak sempurna, kemiskinan, perkawinan yang tidak bahagia, dll. Tekanan
dari lingkungan atau orang lain (eksternal), misalnya: sikap teman kerja yang
tidak kooperatif, pekerjaan terlalu banyak, tempat tinggal yang tidak nyaman,
dll. (Zenko, 2010: 1).

Terry Beehr dan John Newman (dalam Rice, 1999) mengkaji
ulang beberapa kasus stres dan menyimpulkan tiga gejala dari pada individu,
yaitu:

1.
Gejala psikologis

·        
Kecemasan,
ketegangan, kebingungan dan mudah tersinggung

·        
Perasaan
frustrasi, rasa marah, dan dendam (kebencian)

·        
Sensitif
dan hyperreactivity

·        
Memendam
perasaan, penarikan diri, dan depresi

·        
Komunikasi
yang tidak efektif

·        
Perasaan
terkucil dan terasing

·        
Kebosanan
dan ketidakpuasan belajar

·        
Kelelahan
mental, penurunan fungsi intelektual, dan kehilangan konsentrasi

·        
Kehilangan
spontanitas dan kreativitas

·        
Menurunnya
rasa percaya diri

2.
Gejala fisiologis

·        
Meningkatnya
denyut jantung, tekanan darah, dan kecenderungan mengalami penyakit
kardiovaskular

·        
Meningkatnya
sekresi dari hormon stres (contoh: adrenalin dan noradrenalin)

·        
Gangguan
gastrointestinal (misalnya gangguan lambung)

·        
Meningkatnya
frekuensi dari luka fisik dan kecelakaan

·        
Kelelahan
secara fisik dan kemungkinan mengalami sindrom kelelahan yang kronis (chronic fatigue syndrome)

·        
 Gangguan pernapasan, termasuk gangguan dari
kondisi yang ada

·        
Gangguan
pada kulit

·        
Sakit
kepala, sakit pada punggung bagian bawah, ketegangan otot

·        
Gangguan
tidur

·        
Rusaknya
fungsi imun tubuh, termasuk risiko tinggi kemungkinan terkena kanker

3.
Gejala perilaku

·        
Menunda,
menghindari tugas,
dan absen dari perkuliahan

·        
Menurunnya
prestasi (performance) dan
produktivitas

·        
Meningkatnya
penggunaan minuman keras dan obat-obatan

·        
Perilaku
sabotase dalam pekerjaan

·        
Perilaku
makan yang tidak normal (kebanyakan) sebagai pelampiasan, mengarah ke obesitas

·        
Perilaku
makan yang tidak normal (kekurangan) sebagai bentuk penarikan diri dan
kehilangan berat badan secara tiba-tiba, kemungkinan berkombinasi dengan
tanda-tanda depresi

·        
Meningkatnya
kecenderungan berperilaku berisiko tinggi, seperti menyetir dengan tidak hati-hati dan
berjudi

·        
Meningkatnya
agresivitas, vandalisme, dan kriminalitas

·        
Menurunnya
kualitas hubungan interpersonal dengan keluarga dan teman

·        
Kecenderungan
untuk melakukan bunuh diri

Adapun
gejala-gejala stres di tempat kuliah yang sering terjadi, yaitu meliputi:

·        
Kepuasan
kinerja rendah

·        
Kinerja
yang menurun

·        
Semangat
dan energi menjadi hilang

·        
Komunikasi
tidak lancar

·        
Pengambilan
keputusan jelek

·        
Kreatifitas
dan inovasi kurang

·        
Bergulat
pada tugas-tugas yang tidak produktif

E.
Perspektif Mengenai Olahraga sebagai Solusi Mengatasi Stres

            Di zaman
kekinian yang semakin berkembang dari hari ke hari menuntut manusia lebih
produktif. Persaingan sudah semakin merambah dalam segala bidang, baik itu pada
sektor pendidikan, sosial, ekonomi, teknologi, dan lain sebagainya. Dikala
masyarakat banyak yang berperilaku konsumtif, di sisi lain ada juga
golongan-golongan yang terus mengembangkan diri untuk menjadi produktif. Salah
satunya adalah insan cendikia (mahasiswa). Ada berbagai karakteristik mahasiswa
pada era modern ini dan sering kita temui mahasiswa yang di samping menunaikan
kewajibannya kuliah di dalam kelas, mereka juga bekerja untuk memenuhi
kebutuhan ekonomi dan atau untuk mengasah keahliannya (misal: mengajar di
sekolah atau melatih di klub olahraga). Sudah barang tentu selain menghasilkan
uang, kuliah sambil bekerja juga akan menimbulkan efek negatif, salah satunya
adalah stres.  Dalam perspektif tersebut,
penulis melihat adanya peran guna olahraga dalam mengatasi masalah (stres)
tersebut. Tentunya agar individu yang mengalaminya bisa lebih siap menghadapi
tantangan hidup dan lebih produktif. Stres yang berat jika tak terkendali bisa
membuat seseorang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Stres dapat menjadi
penyebab timbulnya masalah serius terhadap kesehatan dan emosional. Mencari
cara untuk mengelola stres adalah bagian yang penting untuk menjaga diri kita
sendiri.

Melakukan
olahraga secara teratur untuk kebugaran merupakan salah satu cara terbaik untuk
mengurangi stres (Brotherbangun.com, 2010: 1). Olahraga adalah serangkaian
gerak raga yang teratur dan terencana untuk memelihara gerak dan meningkatkan
kemampuan gerak. Seperti halnya makan, gerak (olahraga) merupakan kebutuhan
hidup yang sifatnya terus menerus, artinya olahraga sebagai alat untuk mempertahankan
hidup, memelihara dan membina kesehatan, tidak dapat ditinggalkan seperti
halnya makan, Olahraga pun hanya akan dapat dinikmati dan bermanfaat bagi
kesehatan pada mereka yang melakukan kegiatan olahraga. Tetapi bagaimana
olahraga dapat menyehatkan dan berapa berat orang harus melakukan untuk menjadi
lebih sehat. Adapun konsep olahraga kesehatan adalah padat gerak, bebas stres, singkat
(cukup 10 – 30 menit tanpa henti), adekuat, massal, mudah, murah, meriah dan fisiologis
(bermanfaat dan aman). Massal adalah ajang silaturahim, ajang pencerahan stres,
ajang komunikasi sosial. Jadi olahraga kesehatan membuat manusia menjadi sehat jasmani,
rohani dan sosial, yaitu sehat seutuhnya sesuai konsep sehat WHO. Adekuat artinya
cukup, yaitu cukup dalam waktu (10 – 30 menit) dan cukup intensitasnya. Menurut
Cooper (1994) intensitas olahraga yang cukup, yaitu apabila denyut nadi latihan
mencapai 65-80 % DNM sesuai umur (Denyut Nadi Maksimal sesuai umur= 220 – umur dalam
tahun) (H.Y.S. Santosa Giriwijoyo, 2007: 1-2).

Selama ini yoga
dan olahraga yang menyangkut meditasi lebih dipercaya bisa menenangkan pikiran.
Tetapi jika anda sedang tak ingin menahan pose dalam waktu lama dan lebih
ringan, berolahraga kardio dengan intensitas lebih tinggi. Disarankan untuk memilih
olahraga renang, air bisa membantu kita menenangkan diri. Belum lagi, dengan renang
tubuh jadi lebih lelah dan membantu kita untuk tertidur, yang merupakan hal penting
untuk menanggulangi stres (Kompas, 2011: 1). Menurut Yuli (2010: 1-2) berbagai
penelitian menyebutkan bahwa olahraga merupakan salah satu cara melepas stres
yang efektif. Selama berolahraga tubuh kita menghasilkan enzim yang disebut endorphin,
satu jenis morfin alami yang memicu rasa senang dan rileks. Jasper menuturkan,
setelah 25 menit, maka mood orang yang berolahraga akan lebih baik, stres
berkurang dan akan merasakan energi tubuh yang lebih.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB
III

KESIMPULAN

A.  Simpulan

Berdasarkan
pembahasan makalah yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa Olahraga sudah
merupakan suatu kebutuhan hidup sehari-hari, seperti halnya makan. Olahraga
yang dilakukan secara teratur dan terukur dapat menurunkan berat badan,
mencegah penyakit, dan mengurangi stres. Disamping itu untuk mengurangi stres perlu
diciptakan keseimbangan dalam hidupnya, baik pekerjaan, istirahat, makan, olahraga,
dll.