Abstrak North Korea, and Taiwan doesn’t seem

Abstrak

            China has been known for its
increasing power in recent years, potentially overtaking United States as the
most powerful nation in the world. China steadily become influential in the
world international system through its economic power. This article will explain
about China’s growing power in reality and explain the linkages between its
power to become a superpower nation but also the effect of China’s regional
interaction. As a new great power nation, it’s 
normal that China has foreign policy expanding outside its border, and
gaining influence also allies to accomplish its national interest. Interestingly,
China also holds position as an east asian nation. In terms of it, instead of
gaining influence, China played a role as one of competing nations in that
region. Japan, South Korea, North Korea, and Taiwan doesn’t seem to see China
as a power to be feared and instead they are competing among each other. With
the help of “power” concept, it can be determined that China holds more power
and basically the leading nation in that region. Even so, China still find
difficulties to lead the region. East Asia is a region where the countries have
high political mistrust, and even make it harder for China to actually uses its
economic diplomacy. East Asia is still haunted by the threat of war, and even
China whom has become the new rising hegemon can’t even lowered the probability
of conflict. In the near future, take a grain of salt as a hope for peace to
actually happen in East Asia.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 

Keywords
: China foreign
policy, Power, Regional interaction,  East
Asia

 

Latar Belakang

            Cina
sudah tidak dapat dipungkiri lagi telah menjadi negara yang mempunyai kekuatan
besar di sistem internasional. Dominasinya di dunia internasional kini semakin
terlihat dan berpotensi untuk menyaingi hegemoni Amerika Serikat terhadap
sistem internasional itu sendiri. Cina yang hadir memberikan perspektif baru
dan segar dalam beraktifitas secara internasional dengan pendekatan ekonomi kepada
negara yang ia tuju. Berbeda dengan Amerika Serikat yang selalu menggunakan
pendekatan politik dan militer dalam berinteraksi dengan negara lain. Sebagai
negara superpower, sudah sewajarnya
sebuah negara untuk selalu mempertahankan pengaruhnya di dunia internasional,
sedangkan bagi negara yang berusaha mencapai status tersebut, hal yang harus
dilakukan adalah mencari pengaruh di dunia internasional.

            Hal tersebutlah yang dilakukan oleh
Cina saat ini. Cina dengan gencar membangun pengaruh di dunia internasional dan
terjadi di banyak belahan dunia. Kawasan Amerika Latin, Afrika, Timur Tengah,
Eropa Timur, dan Pasifik Selatan merupakan kawasan dimana masih banyak negara
dunia ketiga. Tujuan Cina menjangkau wilayah-wilayah tersebut tentu adalah
untuk mencari pengaruh. Melalui serangkaian jargon dan prinsip yang selalu
digaungkan oleh Cina dalam politik luar negerinya seperti peaceful rise, new development, good neighbor relations, dan lain
sebagainya merupakan cara konkrit Cina dalam mengimplementasikan politik luar
negerinya kedalam kebijakan luar negeri.1

            Dampaknya, Cina semakin kuat dalam
sistem internasional dikarenakan pendekatan ekonomi yang dilakukan Cina dapat
menciptakan kondisi yang menguntungkan satu sama lain sehingga kecenderungan
negara-negara di dunia untuk bekerjasama dengan Cina menjadi semakin tinggi.
Pengaruh Cina sendiri sudah dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Dari
sektor ekonomi berupa produk-produk  yang
kita temukan dan jumpai setiap hari lebih banyak yang berasal dari Cina.
Sedangkan dari sektor budaya, budaya Cina sudah sangat mudah untuk dijumpai dan
bahkan di banyak negara budaya mereka sudah menjadi budaya yang pasti ditemui
dikarenakan diaspora penduduk Cina yang sangat besar ke seluruh penjuru dunia.

            Dengan investasi yang dilakukan oleh
Cina ke negara-negara lain, maka Cina dengan mudah dapat menumbuhkan
pengaruhnya baik dari segi ekonomi dan budaya tersebut sehingga hal-hal yang
berbau Cina menjadi semakin umum seperti yang telah dijelaskan. Pengaruh Cina
dapat dikatakan dapat ditemui di seluruh dunia karena politik luar negerinya
tersebut. Lalu bagaimana dengan posisi Cina di kawasannya sendiri yaitu kawasan
Asia Timur. Cina yang sangat gencar membangun pengaruh melalui politik minyak
di Afrika dan Timur Tengah.2
Serta investasi yang membantu menyelamatkan institusi keuangan Amerika Serikat
dan Eropa pada krisis 2008.3
Cina belum mampu menguasai wilayah Asia Timur atau setidaknya mewujudkan
stabilitas keamanan regional disana dikala pengaruh Cina yang sudah global.

            Kondisi dimana Cina sebagai negara great power secara global namun belum
bisa menguasai kawasan Asia Timur menjadi menarik untuk dibahasa karena kawasan
ini adalah kawasan dimana Cina beraktivitas lebih sering dibanding ke kawasan
lain. Power yang dimiliki Cina menarik untuk dikaji karena dapat dilihat
efektif bagi negara dan kawasan lain tetapi tidak digunakan di kawasan Asia
Timur. Penulis akan melihat bagaimana politik luar negeri Cina mempunyai
perbedaan dalam pendekatannya ke kawasan lain dibandingkan ke kawasan Asia
Timur.

           

Konsep Power

            Menurut
penstudi hubungan internasional klasik seperti kenneth Waltz dan Hans
Morgenthau, konsep power atau
kekuatan condong berkutat di kisaran kemampuan dan kapabilitas militer suatu
negara.4
Penggunaan kekuatan yang penuh kekerasan dan sikap koersif sempat menjadi tolak
ukur sebuah negara dalam menjadi negara besar. Inggris yang pada masa renaisans memiliki kekuatan tempur
berupa angkatan lautnya sangat ditakuti di wilayah Eropa. Begitupun sebelumnya
ketika pasukan bangsa Romawi menjadi yang terkuat. Sampai kepada masa interwar, kekuatan atau power sebuah negara selalu diukur dari hard power yaitu kekuatan militer.
Namun, setelah masa perang dunia berakhir, mulai muncul konsep-konsep baru tentang
power yang tidak lagi berorientasi
kepada hard power. Berkembangnya
zaman serta ilmu hubungan internasional mendorong hadirnya perspektif baru
dalam mendefinisikan power itu
sendiri.

            Konsep soft power dan smart power
menjadi konsep baru untuk menandingi konsep hard power sekaligus menjelaskan
pergeseran nilai power dari yang
tadinya negara selalu menggunakan hard
power namun sekarang mengalami perubahan. Pada dasarnya konsep soft power dan smart power pertama kali dijelaskan secara komprehensif oleh Joseph
S. Nye. Intinya, konsep soft power
lebih menekankan tentang bagaimana suatu negara bisa mendapatkan atau mencapai
kepentingannya dengan cenderung menggunakan cara persuasi dibanding cara
koersi.5
Sedangkan konsep smart power
menjelaskan tentang perpaduan penggunaan hard
power dan soft power untuk dapat
mencapai kepentingan negara melalui perkiraan waktu yang pas untuk setiap
pendekatan dipilih diatas pendekatan yang lain.6

            Konsep power tersebut akan digunakan
dalam mengidentifikasi seberapa besar power yang dimiliki oleh Cina serta
bagaimana Cina memilih diantara power
tersebut dan juga implementasinya dalam bentuk kebijakan. Kemudian akan
terlihat seberapa besar kekuatan Cina dan bagaimana pengaruhnya baik terhadap
sistem internasional dan khususnya negara-negara di kawasan Asia Timur. Cina
memiliki pola permainan yang berbeda dalam mendekati negara-negara didunia
dibanding dengan negara-negara di kawasannya sendiri. Melalui konsep power maka juga akan dilihat seberapa
pengaruhnya kekuatan yang dimiliki Cina untuk mendapatkan pengaruh di dunia
internasional dan juga di kawasan Asia Timur. Melalui identifikasi power Cina, maka dapat dilihat bagimana
Cina melakukan hubungan dengan dunia internasional ternyata berbeda dengan di Asia
Timur karena sebelumnya telah dijelaskan bahwa meskipun Cina sudah dianggap
menjadi negara great power tetapi
Cina belum berhasil menciptakan stabilitas di kawasannya sendiri.

           

Power Cina dan Implikasinya di Asia
Timur

            Sebagaimana
telah dijelaskan sebelumnya bahwa Cina diklaim sebagai rising hegemony yang diprediksi mampu mengurangi dan bahkan
mengalahkan dominasi Amerika Serikat sebagai negara hegemon. Hal tersebut
didasari dari pandangan dalam negeri Cina sendiri yang merasa bahwa bangsa
mereka telah ditakdirkan oleh langit sebagai pusat dunia.7
Dari segi sosial masyarakat Cina memang demikian, tetapi dukungan dan argumen
yang setuju terhadap hal tersebut juga datang dari para pengamat politik
internasional yang merasa bahwa Cina memang bisa untuk mengalahkan Amerika
Serikat dan menjadi negara hegemon baru. Argumen yang digunakan adalah tentang
kekuatan ekonomi Cina. Roda ekonomi Cina berkembang pesat setelah adanya
reformasi besar-besaran yang dilakukan didalam negeri ketika Cina berada
dibawah kepemimpinan Deng Xiaoping pada tahun 1976. 8
Proses industrialisasi besar-besaran dan perubahan sistem ekonomi mejadi
kapitalis mendorong pesatnya pertumbuhan ekonomi Cina.

            Cina yang kemudian perlahan-lahan
memperbaiki ekonomi dalam negerinya akhirnya mampu untuk siap bersaing dengan
dominasi Amerika Serikat dan Eropa sebagai pusat ekonomi dunia. Bergabungnya
Cina dengan World Trade Organization (WTO) pada tahun 2001 menandakan bahwa
Cina telah siap untuk terjun kedalam ekonomi internasional.9
Hasilnya, Cina yang telah mempersiapkan diri selama 30 tahun kemudian dapat
merangsek untuk berada di puncak negara dengan ekonomi terkuat. Kekuatan
ekonomi Cina memang masih belum mengalahkan Amerika Serikat secara Gross
Domestic Product (GDP), tetapi besaran ekonomi Cina dan frekuensi konsumsinya
jauh lebih besar dan cepat. Selain itu mekanisme produksi yang cepat dan masif
membuat Cina semakin produktif dan didukung oleh bergabungnya Cina kedalam WTO
mampu mempermudah pemasaran produk mereka.

            Melalui penjelasan tersebut, maka
dapat disimpulkan bahwa Cina menggunakan kekuatan ekonomi untuk dapat menjadi
negara dengan power yang besar di sistem internasional. Berbeda dengan Amerika
Serikat yang harus memenangkan perang terlebih dahulu sebelum dapat mengatur
perekonomian dunia melalui rezim-rezim yang mereka buat. Cina tidak perlu
memenangkan perang, mereka hanya membutuhkan peluang untuk dapat mengalahkan
Amerika Serikat dan aliansinya di permainan yang telah mereka buat. Pesatnya
pertumbuhan ekonomi Cina mampu menjadikan mereka sebagai negara yang patut
diperhitungkan secara kekuatan. Tetapi, Cina belum terlalu lama melakukan
aktivitas sebagai negara besar yang kemudian orientasi kebijakannya adalah
memperluas pengaruh dan mencari teman.

            Mekanisme yang dilakukan Cina dalam
mencari pengaruh di dunia internasional adalah dengan menggunakan soft power,
lebih tepatnya pendekatan ekonomi. Cina tidak menggunakan pendekatan militer
sebagaimana dilakukan oleh Amerika Serikat karena mereka lebih menekankan pada
prinsip-prinsip non-intervensi dan bahwa tujuan utama mereka adalah berdagang.10
Hal tersebut tentu merupakan motif yang terlihat oleh Cina tetapi sangat mudah
untuk dilihat bahwa motif laten dari pendekatan Cina adalah mencari aliansi di
negara-negara lain. Cina dalam menjalankan politik ekonominya tentu merupakan
sebuah bentuk dari penggunaan soft power.
Cina melakukan persuasi melalui bantuan luar negeri, kerjasama perdagangan, dan
lain sebagainya untuk mencapai kepentingan politik

            Cara Cina untuk memberikan
pengaruhnya di sistem internasional adalah dengan memaksimalkan perdagangan
dengan negara lain tanpa menyinggung aspek politik negara lain tersebut. Cina
mempraktekannya melalui kerjasama fungsional seperti salah satunya NEPAD (New
Partnership for Africa’s Development) yang mana merupakan kerjasama langsung
Cina dengan Afrika.11 Selain
itu Cina juga melaksanakan program OBOR (One Belt One Road) yang bentuk
implementasinya adalah mengamankan jalur perdagangan di kawasan Asia Tenggara, Asia
Tengah dan Timur Tengah.12
Untuk mencapai hal tersebut Cina tentu melakukan diplomasi ekonomi sehingga
kepentingannya dapat tercapai demi merevitalisasi kembali jalur sutera yang
menjadi kebangsaan bangsa Cina di masa lampau.

 

            Maka, dapat disimpulkan bahwa Cina
sangat mengutamakan diplomasi ekonomi sebagai cara mewujudkan cita-citanya
sebagai negara great power. Diplomasi ekonomi yang merupakan bentuk dari soft
power yang ternyata lebih diutamakan oleh Cina dibandingkan dengan pendekatan
militer dan politik dalam menyebarkan pengaruh. Kekuatan ekonomi Cina kini
berada di peringkat ketiga didunia, bahkan peringkat kedua apabila Uni Eropa
tidak dihitung karena mereka adalah organisasi multilateral.13
Tetapi, sebenarnya cara Cina untuk mewujudkan cita-citanya adalah melalui smart
power, begitulah yang banyak dibicarakan belakangan ini. Menguatnya Cina
sebagai kekuatan ekonomi dunia ternyata juga diimbangi dengan kekuatan
militernya yang diam-diam ikut dibangun dan diperbaharui. Sebagaimana
penjelasan dari konsep smart power yang mengatakan bahwa penggunaan dua jenis
power haruslah disesuaikan dengan ketepatan waktu penggunaannya. Dan hal inilah
yang terlihat di Cina saat ini.

            Cina selain membangun kekuatan
ekonominya untuk dapat bersaing dengan Amerika Serikat ternyata juga membangun
kekuatan militernya. Kondisi militer Cina saat ini berada di peringkat ketiga
didunia setelah Amerika Serikat dan Rusia.14
Cina terlihat mengabaikan konfrontasi dan konflik yang dapat terjadi dengan
tidak mempedulikan dan memperlama sengketa-sengketa yang Cina alami. Ketika
ekonomi Cina sudah mulai besar maka Cina juga perlahan-lahan meningkatkan
kapabilitas militernya untuk kemudian digunakan sebagai deterrence di kemudian hari. Hal ini dibuktikan dengan situasi
beberapa tahun kebelakang dengan Cina yang semakin agresif baik di kawasan Asia
Timur maupun di kawasan Asia Tenggara. Cina menjadi semakin kuat dan berani
untuk mengklaim Kepulauan Spratly tanpa takut akan ancaman Filipina dan
Vietnam.15
Melalui konsep smart power, maka
pergantian pendekatan power yang digunakan sangat baik karena Cina paham betul
tentang bagaimana mereka harus merespon sebuah isu. Ketika mereka mencari
aliansi maka mereka akan melakukan pendekatan soft power, tetapi ketika mereka ingin mempertahankan klaim
wilayahnya maka pendekatan yang digunakan adalah hard power.

            Jadi, penggunaan power yang dilakukan oleh Cina merupakan
percampuran antara soft power dengan hard power, yang mana dinamakan smart power dapat dikatakan cukup
berhasil karena Cina telah sampai pada level kekuatan yang tinggi dalam sistem
internasional. Implikasinya adalah saat ini sudah banyak negara-negara didunia
yang berorientasi pada ekonomi Cina. Investasi Cina sudah berada dimana-mana,
termasuk di Indonesia. Beberapa negara di Timur Tengah salah satunya Iran
mengekspor kekayaan minyaknya terbanyak ke Cina.16
Negara Zimbabwe juga berusaha mengganti acuan keuangannya dari Dollar AS
menjadi Yuan Cina.17
Negara Afrika lainnya seperti Angola merupakan rekan dagang yang paling erat
dengan Cina dan menjadi salah satu negara di Afrika yang paling maju.

            Lantas bagaimana implikasi
penggunaan power oleh Cina terhadap kawasannya sendiri di Asia Timur. Kawasan
ini tentu menjadi kawasan yang paling terkena dampak akan Cina karena secara
geografis merupakan paling dekat. Kawasan Asia Timur sendiri terdiri dari
sedikit negara, yaitu Cina, Jepang, Korea Selatan, Korea Utara, dan wilayah
Taiwan yang masih dipersengketakan. Secara sederhana kawasan ini merupakan
sentral ekonomi modern yang dimotori oleh tiga negara yaitu Cina, Jepang, dan
Korea Selatan. Negara di Asia Timur cenderung konfliktual secara politik, dan
mempunyai tendensi untuk saling berkompetisi. Negara di Asia Timur memiliki rasa
kebanggaan nasional yang tinggi, oleh karena itu beberapa pendapat mengatakan
bahwa sulitnya membentuk regionalisme di kawasan ini dikarenakan akibat hal
tersebut. Tiga negara yang besar ekonominya di Asia Timur saling berkompetisi
terutama setelah adanya east asian
miracle, dimana hadirnya negara-negara ini dalam kompetisi ekonomi global.

            Oleh karena negara-negara di kawasan
Asia Timur lebih banyak negara maju dibanding negara berkembang, maka
pendekatan dengan menggunakan soft approach tidak dapat digunakan oleh Cina di
kawasan ini. Adanya elemen historis yaitu kondisi Asia Timur yang konfliktual,
menyulitkan bagi Cina untuk dapat menggerakkan kawasan ini melalui kekuatan
ekonomi. Jepang dan Korea Selatan bisa dibilang tidak terlalu jauh tertinggal
dari Cina dalam hal ekonomi karena mereka merupakan termasuk negara-negara
maju. Dari segi militer kedua negara tersebut juga tidak jauh berada dibelakang
Cina karena mereka mempunyai kapabilitas militer yang juga canggih. Jadi,
pendekatan Cina yang digunakan di kawasan Asia Timur masih berupa hard power. Peningkatan kapabilitas
militer Cina akan mempengaruhi balance of
power di kawasan ini yang mana selalu dihantui akan pecahnya konflik.

            Oleh karena itu, Cina sendiri masih
mengalami kesulitan dalam menjaga stabilitas di kawasan Asia Timur. Berharap
bahwa Cina dengan power nya dapat menstabilkan kawasan Asi Timur masih
terbilang sulit karena kondisi Asia Timur sendiri yang menyulitkannya. Dinamika
kondisi Asia Timur yang masih konfliktual, terutama karena terdapat perbedaan
aliansi yaitu Jepang bersama dengan Korea Selatan dan Cina yang bersama Korea
Utara masih akan menimbulkan kemungkinan sulitnya tercapainya regionalisme dan
stabilitas di kawasan tersebut. Besarnya kekuatan ekonomi Cina tidak akan bisa
digunakan karena mayoritas negara Asia Timur adalah negara maju, sedangkan
penggunaan kekuatan militer hanya akan memperkeruh konflik di kawasan tersebut.
Sulit untuk berusaha merubah kondisi Asia Timur sekarang, terutama ketika masih
banyak pihak eksternal seperti Amerika Serikat yang masih ikut bermain di
kawasan ini. Maka, power Cina yang
besar saat ini belum dapat mempengaruhi kondisi di Asia Timur.

 

Penutup

            Kekuatan
yang dimiliki Cina memang sudah sangat besar, terutama dari segi kekuatan
ekonomi. Cina berhasil memberikan gaya baru dalam penanaman pengaruh sebagai
negara besar di sistem internasional. Pendekatan soft power berupa ekonomi yang berbentuk investasi, bantuan luar
negeri, dan kerjasama perdagangan tanpa memberikan syarat apapun kepada negara
tujuan direspon positif apabila dibandingkan dengan pendekatan Amerika Serikat.
Sasaran kebijakan Cina tersebut yang tepat yaitu ke negara-negara dunia ketiga
akhirnya membuat pengaruh Cina di dunia internasional menjadi semakin kuat dan
perlahan mengurangi dominasi Amerika Serikat. Kekuatan yang dibutuhkan suatu
negara pada zaman sekarang adalah kekuatan ekonomi, bukan lagi kekuatan militer
dan politik. Kemampuan Cina untuk membaca situasi tersebut sangatlah baik
sehingga kemungkinan bagi Cina untuk mencapai tujuannya sebagai pusat dari
dunia dapat tercapai.

            Namun, meskipun Cina memiliki
kekuatan yang besar di sistem internasional, tetapi Cina belum mampu untuk
menguasai kawasan tempat Cina berada, yaitu Asia Timur. Kawasan ini memang
sangat sulit dan kompleks untuk tercapainya stabilitas. Kekuatan Cina memang
yang paling besar disana, tetapi justru malah menimbulkan ketidakpercayaan
politik yang lebih tinggi dibandingkan proses stabilisasi kawasan. Selain itu,
pendekatan Cina ke kawasannya sendiri yang lebih berorientasi pada hard power menyebabkan sulitnya Cina
untuk memperbaiki kondisi disana. Hal ini mungkin disebabkan karena sentimen
nasionalitas yang tinggi di Asia Timur sehingga Cina sendiri tidak melakukan
pendekatan soft power di wilayah
tersebut. Jadi, implikasi dari power
Cina yang besar dan bahkan sudah menyebar secara global masih belum bisa
memperbaiki kondisi kawasan Asia Timur yang konfliktual dan terus dihadapi
ancaman keamanan